mizannews.id, Parepare_Di bawah kepemimpinan yang dinilai berhasil menghidupkan kembali nuansa religius di ruang publik, duet Wali Kota dan Wakil Wali Kota Parepare, Tasming Hamid dan Hermanto, menuai apresiasi luas. Malam Idulfitri tahun ini benar-benar terasa berbeda, lebih hidup, lebih semarak, dan sarat nilai syiar Islam.
Langit malam di Parepare bergema oleh lantunan takbir yang menggugah. Ratusan warga tumpah ruah mengikuti lomba takbiran keliling yang digelar Pemerintah Kota. Dari anak-anak hingga orang dewasa, dari remaja masjid hingga komunitas masyarakat, semuanya larut dalam suasana kemenangan yang penuh suka cita.
Dipusatkan di Lapangan Andi Makkasau sebagai titik start dan finish, kegiatan ini berubah menjadi panggung kreativitas Islami. Iringan bedug, hiasan lampu, hingga ornamen bernuansa religi menghiasi iring-iringan peserta yang berkeliling kota, menyebarkan gema “Allahu Akbar” ke setiap sudut jalan.
Tak hanya meriah, kegiatan ini juga kompetitif. Pemerintah kota menyiapkan hadiah puluhan juta rupiah sebagai bentuk apresiasi. Juara pertama membawa pulang Rp20 juta, juara kedua Rp15 juta, dan juara ketiga Rp10 juta, disertai kategori harapan yang juga mendapatkan penghargaan.
Berdasarkan penilaian ketat dari Dewan Hakim yang terdiri dari Andi Mulyadi, S.Sos., MAP., Dr. Muhammad Saleh, M.Ag., Gustam, M.Pd., dan Suardi, M.Pd., berikut adalah para pemenang lomba Takbiran tahun ini:
Juara 1: Masjid Al Hijrah, dengan total nilai 98.
Juara 2: Masjid AR Rahmah, dengan total nilai 80.
Juara 3: Masjid Al Ihsan, dengan total nilai 79.
Juara Harapan 1: Masjid Al Hikmah MAN 2 Parepare, dengan total nilai 77,5.
Juara Harapan 2: Masjid Jami Nurul Falah, dengan total nilai 77.
Juara Harapan 3: Masjid Syifa Fityah, dengan total nilai 75.
Wali Kota Parepare, Tasming Hamid, menegaskan bahwa takbiran keliling bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi bagian dari syiar Islam yang harus terus dijaga. Ia menyebut, kebersamaan dan semangat keagamaan seperti ini menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang berakhlak.
Menariknya, suasana ini kontras dengan kebijakan di Makassar yang membatasi konvoi takbiran. Di Parepare, syiar justru diberi ruang untuk tumbuh. Dalam kajian fiqih, praktik ini memiliki landasan kuat:
يندب التكبير بغروب الشمس ليلتي العيد في المنازل والطرق والمساجد والأسواق برفع الصوت والأظهر إدامته حتى يحرم الإمام بصلاة العيد
Artinya: “Disunnahkan mengumandangkan takbir ketika matahari terbenam pada malam dua hari raya, di rumah-rumah, di jalan-jalan, di masjid-masjid, dan di pasar-pasar dengan mengeraskan suara. Pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa takbir itu terus dilanjutkan sampai imam memulai (takbiratul ihram) shalat ‘Id.”
Dengan demikian, gema takbir yang memenuhi jalanan bukan hanya ekspresi budaya, tetapi juga memiliki legitimasi kuat dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam fiqih mazhab Syafi’i.
Selama pelaksanaan, kegiatan berjalan tertib dan aman. Aparat keamanan dan panitia bersinergi menjaga kondusivitas, sehingga masyarakat dapat merayakan malam Idulfitri dengan penuh kekhusyukan tanpa gangguan.
Malam itu, Parepare bukan sekadar merayakan Idulfitri, tetapi menunjukkan bahwa syiar Islam masih hidup, berdenyut, dan mengakar kuat di tengah masyarakat. Sebuah potret kota yang tidak hanya membangun fisik, tetapi juga menjaga ruh keagamaannya.


