Oleh: Dr. H. Muhammad Saleh, M.Ag. (Dosen IAIN Parepare, Pengurus DMI Kota Parepare, Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PDM Kota Parepare)
mizannews.id, Artikel Religi_Gema takbir yang menggetarkan langit pada Idul Fitri sejatinya bukanlah sekadar lonceng penanda berakhirnya Ramadhan. Ia adalah titik start bagi perjalanan baru: perjalanan menjaga nilai. Di saat umat Islam berbondong-bondong merayakan kemenangan dengan syukur, sebuah pertanyaan mendasar muncul ke permukaan: apakah kemenangan itu hanya berhenti pada selebrasi ritual, atau bertransformasi menjadi karakter dalam realitas kehidupan?
Ramadhan telah hadir sebagai "madrasah spiritual" yang menempa kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, tujuan akhir puasa adalah melahirkan ketakwaan (QS. Al-Baqarah: 183). Namun, takwa bukanlah capaian statis yang berhenti saat hilal Syawal tampak, melainkan kualitas diri yang harus dirawat secara konsisten. Di sinilah Syawal mengambil peran vital sebagai ruang uji—sebuah panggung pembuktian apakah nilai-nilai yang ditempa mampu bertahan saat "belenggu" Ramadhan telah dilepaskan.
Tantangan Kesalehan di Ruang Digital
Dalam konteks kekinian, ujian tersebut kian kompleks. Kita hidup di era digital, di mana Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam kepungan teknologi. Mereka cepat mengakses informasi, namun kerap rapuh dalam menyaring nilai. Ironisnya, di tengah hiruk-pikuk aktivitas religius selama Ramadhan, ruang digital kita sering kali masih dikotori oleh ujaran kebencian, hoaks, dan defisit etika komunikasi. Fenomena ini menunjukkan adanya jurang pemisah antara kesalehan ritual dan kesalehan digital.
Islam sebenarnya telah menyediakan kompas yang sangat presisi. Perintah tabayyun (klarifikasi informasi) dalam QS. Al-Hujurat: 6 sangat relevan untuk membendung banjir informasi saat ini. Bahkan, setiap kata yang kita ketik di layar ponsel tidak luput dari pengawasan Ilahi (QS. Qaf: 18). Dengan demikian, aktivitas digital kita bukanlah ruang hampa nilai, melainkan bagian dari ibadah yang memiliki konsekuensi moral dan ukhrawi.
Integritas Nabawi dan Kearifan Lokal
Rasulullah Saw. telah meletakkan fondasi integritas yang sangat kokoh melalui gelar Al-Amin (Yang Terpercaya), jauh sebelum beliau diangkat menjadi Nabi. Keteladanan ini merupakan modal utama dalam membangun kejujuran di era digital, di mana manipulasi informasi dan pencitraan semu begitu mudah diproduksi. Nilai-nilai ini juga berkelindan dengan kearifan lokal Bugis-Makassar melalui konsep sipakatau (memanusiakan manusia), sipakainge’ (saling mengingatkan), dan sipakalebbi (saling memuliakan). Jika nilai-nilai luhur ini dihidupkan, interaksi digital tidak akan menjadi medan konflik, melainkan ruang silaturahim yang bermakna.
Syawal: Dari Ritual Menuju Peradaban
Oleh karena itu, Syawal harus dimaknai sebagai momentum transformasi total. Pendidikan Agama Islam tidak boleh lagi sekadar transfer pengetahuan, tetapi harus bermuara pada pembentukan karakter yang adaptif sekaligus kokoh di era digital. Literasi digital berbasis nilai Islami perlu diperkuat agar peserta didik terbiasa berpikir kritis, memverifikasi data, dan menggunakan media sosial sebagai sarana menebar benih kebaikan.
Dunia digital adalah bagian dari ruang pengabdian kepada Allah. Apa yang kita tulis, bagikan, dan komentari adalah cerminan dari kualitas iman kita. Di sinilah urgensi istiqamah—sebagaimana sabda Rasulullah Saw., bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesimpulan
Syawal pada akhirnya bukan sekadar bulan perayaan, tetapi bulan pembuktian kualitas. Kemenangan sejati tidak terletak pada gema takbir yang terdengar sesaat, melainkan pada karakter mulia yang tetap hidup setelahnya.
Mari kita jaga kejujuran dalam lisan dan tulisan, rawat empati dalam setiap interaksi, dan tebarkan kemaslahatan di ruang nyata maupun digital. Peradaban yang mulia tidak dibangun dari tumpukan kata-kata, melainkan dari konsistensi amal nyata. Semoga Allah Swt. membimbing kita agar mampu menjaga ketaatan dan menghidupkan nilai-nilai Islam di setiap helaan napas kita, termasuk di tengah laju teknologi yang tak terbendung.
Rabbana taqabbal minna, innaka antas sami’ul ‘alim, wa tub ‘alaina innaka antat tawwabur rahim. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


