Pasang Iklan
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Sepekan Pasca Idul Fitri: Burasa, Ketupat, dan Makna Silaturrahim yang Berkelanjutan


 Oleh: H. Muhammad Saleh (Dosen IAIN Parepare, Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PDM Parepare, Pengurus DMI Kota Parepare)

mizannews.id, Artikel-Idul Fitri kini telah sepekan berlalu. Gema takbir yang mulanya menggetarkan relung jiwa kini perlahan meluruh, frekuensi kunjungan mulai menyusut, dan hiruk-pikuk perayaan mulai bertransisi kembali ke ritme rutinitas yang mekanistis. Namun, di balik redanya euforia ini, sebuah pertanyaan reflektif-eksistensial patut kita ajukan: Apakah nilai-nilai "madrasah" Ramadhan—keikhlasan yang sunyi, kesabaran yang tegar, dan kepedulian yang tulus—masih berdenyut dalam nadi keseharian kita, ataukah ia ikut menguap bersama berakhirnya hidangan di meja makan?

Dalam konstelasi budaya Bugis-Makassar, eksistensi Burasa dan Ketupat pada momentum lebaran bukanlah sekadar komoditas kuliner penuntas lapar. Keduanya adalah artefak budaya yang menyimpan sandi-sandi filosofis mendalam, merepresentasikan dialektika antara dimensi sosial (hablum minannas) dan dimensi spiritual (hablum minallah).

Burasa: Simfoni Kebersamaan dan Keteguhan (Ṣabr)

Burasa, yang diracik dari elemen sederhana berupa beras dan gurihnya santan, mengajarkan sebuah aksioma kehidupan: bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh variabel kemewahan lahiriah, melainkan oleh densitas ketulusan batin. Secara sosiologis, proses pembuatan burasa adalah manifestasi dari collective unity (persatuan kolektif). Ia melibatkan gotong-royong antaranggota keluarga hingga tetangga, menegaskan bahwa kebahagiaan Idul Fitri adalah milik komunal, bukan pencapaian individualis yang egois.

Lebih jauh, burasa adalah simbol dari sifat Ṣabr (kesabaran). Proses memasaknya yang memakan waktu berjam-jam menuntut ketelatenan dan daya tahan. Dalam kearifan lokal Bugis, etos ini termaktub dalam petuah:

“Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata” (Hanya kerja keras yang tekunlah yang akan dimudahkan untuk mendapatkan rahmat Tuhan).

Pesan ini sangat relevan dalam konteks silaturahmi. Menyambung tali persaudaraan tidak bisa dilakukan secara instan atau sekadar formalitas basa-basi; ia membutuhkan investasi waktu, kesungguhan hati, dan kontinuitas yang konsisten.

Ketupat: Metafora Kejujuran dan Pemurnian Jiwa

Di sisi lain, Ketupat hadir dengan dimensi reflektif yang lebih teknis. Anyaman janur yang rumit dan berkelindan adalah representasi visual dari kompleksitas kesalahan dan khilaf manusia yang seringkali menjerat hidup. Namun, ketika kulit anyaman itu dibuka, tampaklah isi yang putih bersih dan solid—sebuah simbol kesucian hati (fitrah) setelah ditempa "pembakaran" nafsu selama Ramadhan.

Filosofi Jawa ngaku lepat (mengakui kesalahan) yang melekat pada ketupat bersinergi dengan semangat ma’fua (pemaafan) dalam Islam. Ketupat mengajarkan keterbukaan universal. Saat dibelah, ia menyingkap isinya tanpa ada yang disembunyikan. Ini adalah pesan moral bagi relasi sosial kita: bahwa silaturahmi yang otentik menuntut integritas dan kejujuran, tanpa ada sekat prasangka (su’udzon) maupun dendam yang mengerak di balik topeng keramahan.

Sinergi Teologis dan Integrasi Karakter

Islam mendudukkan silaturahmi bukan hanya sebagai tradisi moral, melainkan perintah teologis dengan implikasi eskatologis. Allah Swt. berfirman dalam QS. An-Nisa: 1:

“...dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.”

Rasulullah ﷺ pun menjanjikan korelasi positif antara silaturahmi dengan kualitas hidup melalui hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahim.”

Secara integratif, Burasa dan Ketupat adalah dwitunggal nilai. Burasa mengajarkan kita bagaimana membangun dan merawat hubungan melalui keikhlasan dan kebersamaan, sementara Ketupat mengajarkan kita bagaimana memperbaiki dan memurnikan hubungan melalui kejujuran dan keberanian meminta maaf. Yang satu berfungsi sebagai perekat sosial (social bonding), dan yang lain sebagai pembersih residu konflik (conflict resolution).

Nilai-nilai ini beresonansi sempurna dengan falsafah kemanusiaan Bugis-Makassar: Sipakainge’ (saling mengingatkan), Sipakalebbi’ (saling menghargai), dan Sipakatau (saling memanusiakan).

Living Values Education: Pendidikan Karakter Kontekstual

Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam (PAI), simbolisme Burasa dan Ketupat dapat diangkat sebagai media living values education. Pendidik dapat mentransformasi teori ukhuwah (persaudaraan) dan empati menjadi pembelajaran yang membumi. Peserta didik diajak melihat realitas budaya mereka bukan sebagai ritual hampa, melainkan sebagai laboratorium karakter. Integrasi kearifan lokal (Local Wisdom) ini menjadi strategi krusial untuk membangun generasi yang memiliki kecerdasan spiritual sekaligus kepekaan sosial yang kontekstual.

Epilog: Memulai dari Titik Akhir

Sepekan pasca-lebaran bukanlah garis finish, melainkan titik start untuk mengimplementasikan hasil latihan spiritual kita. Kekuatan sebuah bangsa dan umat tidak hanya diukur dari kemegahan rumah ibadahnya, tetapi dari seberapa kokoh jembatan hati yang dibangun antarmanusia.

Pada akhirnya, Burasa telah memberikan kita metodologi tentang cara menjaga hubungan, sementara Ketupat memberikan kita kunci tentang cara membersihkan hubungan. Keduanya berpadu menjadi narasi yang hidup—bahwa silaturahmi adalah proses perjalanan panjang yang menuntut pengorbanan ego demi tegaknya kemanusiaan.

Semoga kita bukan termasuk hamba yang hanya merayakan Idul Fitri di bibir saja, melainkan mampu merawat silaturahmi hingga akhir hayat. Semoga hidup kita dilapangkan dari kesempitan rezeki, dipanjangkan umur dalam ketaatan, dan senantiasa dihimpun dalam ukhuwah yang diridhai oleh-Nya. Aamiin Ya Rabbal Alamin.


Mizannews.id – Menebar Nilai, Menjaga Tradisi, Menginspirasi Negeri.

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Sepekan Pasca Idul Fitri: Burasa, Ketupat, dan Makna Silaturrahim yang Berkelanjutan
  • Sepekan Pasca Idul Fitri: Burasa, Ketupat, dan Makna Silaturrahim yang Berkelanjutan
  • Sepekan Pasca Idul Fitri: Burasa, Ketupat, dan Makna Silaturrahim yang Berkelanjutan
  • Sepekan Pasca Idul Fitri: Burasa, Ketupat, dan Makna Silaturrahim yang Berkelanjutan
  • Sepekan Pasca Idul Fitri: Burasa, Ketupat, dan Makna Silaturrahim yang Berkelanjutan
  • Sepekan Pasca Idul Fitri: Burasa, Ketupat, dan Makna Silaturrahim yang Berkelanjutan
Posting Komentar
Ad
Ad