Pasang Iklan
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Jangan Merusak Amal



 

Oleh: Gustam, M.Pd (Dosen STAI DDI Parepare, Ketua IKA Pascasarjana IAIN Parepare, serta aktif di berbagai organisasi keumatan dan kemasyarakatan di Kota Parepare)

MIZANNEWS.ID, Artikel Idul Fitri  1447 H  – Gema takbir, tahmid, dan tahlil memecah keheningan pagi ini, merobek langit dan menembus relung hati yang paling dalam. Suara-suara itu bukan sekadar penanda berakhirnya rasa lapar dan dahaga ragawi, melainkan sebuah simfoni kemenangan spiritual. Idul Fitri 1447 H adalah puncak perayaan syukur atas nikmat iman yang tak ternilai, ruang ibadah yang luas, serta rahmat Allah yang tak bertepi yang telah kita reguk sepanjang bulan suci.

Namun, di tengah hiruk-pikuk kegembiraan ini, sebuah pertanyaan besar membayangi hati nurani kita: Apakah kemenangan kita hari ini hanyalah sebatas perayaan berakhirnya Ramadhan, ataukah kemenangan hakiki pada kemampuan kita menjaga kemurnian dan keutuhan amal saat Ramadhan telah berlalu? Inilah saatnya kita bermuhasabah, merenung, dan memastikan bahwa bangunan spiritual yang telah kita bangun dengan susah payah selama sebulan tidak runtuh seketika.

Ramadhan sebagai Madrasah Spiritual

Sebulan penuh kita telah berada di "Madrasah Ramadhan", tempat jiwa ditempa untuk lebih dekat dengan Al-Khaliq dan lebih peduli pada sesama. Kini, di hari yang fitri, doa kita adalah satu: رَبَّنَا تَقَبَّLْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ “Wahai Tuhan kami, terimalah amal ibadah kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127-128).

Peringatan: Jangan Merusak Pintalan Amal

Pesan fundamental yang harus kita bawa pulang dari mimbar Idul Fitri tahun ini adalah larangan merusak amal. Allah SWT memperingatkan dengan tegas dalam Surah Muhammad ayat 33:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan janganlah kamu membatalkan (merusak) amal-amalmu.”

Ayat ini adalah rambu-rambu kehidupan yang sangat krusial. Merawat jejak Ramadhan berarti menjaga amal-amal kita agar tidak hancur sia-sia. Lantas, apa saja yang dapat merusak amal?

1. Jangan Merusak Amal dengan Syirik Syirik adalah dosa terbesar yang dapat menghapuskan seluruh amal kebaikan tanpa sisa. Hati-hatilah terhadap syirik, baik yang nyata dalam bentuk penyembahan selain Allah, maupun syirik tersembunyi seperti riya' (beramal demi pujian manusia) dan ujub (merasa bangga dengan amal sendiri).

2. Jangan Merusak Amal dengan Murtad Keluarnya seseorang dari Islam (murtad) adalah tindakan yang membatalkan seluruh amal yang pernah dilakukannya selama menjadi Muslim. Pertahankanlah iman kita hingga akhir hayat.

3. Jangan Melakukan Kemunafikan dalam Beriman dan Berjuang Sifat munafik—mengaku beriman namun hati ingkar, atau berpura-pura berjuang demi keuntungan pribadi—adalah rayap yang menggerogoti amal. Ketulusan dalam beriman dan berjuang adalah kunci diterimanya amal.

4. Jangan Merasa Berjasa atas Andil Kita dalam Berjuang dan Berdakwah Jangan pernah merasa bahwa agama ini berutang budi pada kita. Segala andil kita dalam perjuangan dan dakwah adalah semata-mata karena hidayah dan taufik dari Allah. Merasa berjasa adalah benih kesombongan yang dapat merusak amal.

5. Jangan Berkhianat Khianat adalah sifat yang sangat dicela dalam Islam. Jangan khianati Allah dan Rasul-Nya dengan melanggar larangan-Nya. Jangan khianati jabatan dan sumpah profesi. Jangan khianati istri/suami. Jangan khianati perjuangan, persahabatan, masjid, pesantren, negara, keuangan negara, maupun pemerintahan Muslim yang sah. Pengkhianatan menghancurkan pahala dan mendatangkan dosa besar.

6. Jangan Berhenti Beramal Setelah Bulan Ramadhan Madrasah Ramadhan bukan garis finis, melainkan batu loncatan. Jangan berhenti shalat berjamaah di masjid, jangan berhenti berpuasa sunnah, jangan berhenti bersedekah, jangan berhenti berzikir dan berdoa, jangan berhenti saling menasehati dalam kebaikan, dan jangan berhenti jadi orang baik hanya karena Ramadhan telah usai. Muslim sejati adalah mereka yang menghidupkan sajadah sepanjang tahun.

Penutup: Hakikat Istiqamah Hingga Hembusan Napas Terakhir

Marilah kita merenungkan kembali hakikat istiqamah. Kita dipanggil untuk memperjuangkan istiqamah, bukan istiqamah sampai kita kaya raya, bukan istiqamah sampai kita menjadi pejabat, bukan istiqamah sampai usia pensiun, dan bukan pula istiqamah sampai ada peluang atau kesempatan untuk berkhianat.

Hakikat istiqamah adalah ketaatan yang tak kenal lelah, yang terus kita perjuangkan dan pertahankan sampai hembusan napas terakhir. Inilah kemenangan hakiki yang sesungguhnya.

Sebagai penutup, mari kita sadari bahwa tanpa rahmat Allah, kita bukanlah apa-apa.

“Jika bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, niscaya kalian mengikuti setan kecuali sedikit.” (QS. An-Nisa: 83).

Marilah kita merayakan kemenangan Idul Fitri 1447 H ini dengan penuh kerendahan hati. Jangan biarkan hari ini menjadi ajang pamer kemewahan, melainkan ajang memperkuat silaturahmi dan saling memaafkan. Semoga Allah menerima seluruh pengabdian kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita pribadi yang istiqamah hingga menjumpai Husnul Khatimah.

Taqabbalallahu minna wa minkum.

والله أعلم بالصواب


(Naskah ini disampaikan pada Khotbah Id di Masjid Ar Rafiah Parepare)

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Jangan Merusak Amal
  • Jangan Merusak Amal
  • Jangan Merusak Amal
  • Jangan Merusak Amal
  • Jangan Merusak Amal
  • Jangan Merusak Amal
Posting Komentar
Ad
Ad