OPINI AKHIR PEKAN
Oleh: Redaksi Mizannews.id
mizannews.id, Opini – Masih ingat jargon mentereng tentang Indonesia yang akan kembali menjadi "Macan Asia"? Narasi itu kini terasa seperti lelucon pahit saat kita menengok apa yang terjadi di Selat Hormuz. Di jalur nadi perdagangan dunia itu, taring yang katanya tajam ternyata tumpul. Alih-alih mengaum sebagai pemimpin kawasan, Indonesia justru tampil layaknya "Kucing Anggora" yang hanya bisa mengeong, memohon izin lewat di tengah ketegangan geopolitik Iran dan sekutunya.
Kontras Harga Diri: Belajar dari Tetangga
Faktanya menyakitkan. Kapal-kapal tanker milik Malaysia dan Thailand melenggang relatif aman. Mengapa? Jawabannya bukan pada besarnya armada perang, melainkan pada kejelasan sikap. Diplomasi mereka tegas, punya posisi tawar yang dihormati, dan konsisten dalam memandang kedaulatan.
Sementara kita? Indonesia—atau yang sering dijuluki netizen sebagai negara "Konoha"—masih tertahan dalam ketidakpastian. Kementerian Luar Negeri hanya bisa mengeluarkan rilis klise: "Terus melakukan komunikasi diplomatik." Dalam bahasa pasar, itu terdengar seperti "ngemis-ngemis" tapi tidak didengarkan. Iran, sebuah negara yang harga dirinya setinggi langit meski dihantam embargo selama 45 tahun, jelas tidak butuh "sahabat" yang mentalnya transaksional. Mereka tidak butuh teman yang datang saat ada untung, tapi tiarap saat kawan sedang ditekan dunia.
Diplomasi yang Tergadai "Sepiring Nasi Campur"
Mengapa kita kehilangan wibawa? Karena politik luar negeri kita menjadi ambigu dan penakut. Kita seolah menjual amanat UUD 1945 dan prinsip "Bebas Aktif" demi kepentingan perut sesaat. Diplomasi kita hari ini adalah "Diplomasi Sepiring Nasi Campur"—semua dicampur aduk demi investasi dan recehan proyek yang ujung-ujungnya hanya dinikmati segelintir elite.
Bagaimana dunia internasional, termasuk Iran dan negara-negara Timur Tengah, mau menaruh hormat jika pejabat kita lebih sibuk "mengembargo" rakyatnya sendiri dengan keserakahan? Di mata dunia, negara yang pejabatnya hobi merampok anggaran tidak akan pernah punya harga diri. Integritas sebuah bangsa di meja perundingan internasional ditentukan oleh seberapa bersih rumah tangganya sendiri.
Program Mercusuar dan Korupsi yang Menggurita
Di dalam negeri, pemerintah justru disibukkan dengan proyek-proyek ambisius yang berdampak sistemik, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski tujuannya terdengar mulia, publik mencium aroma potensi korupsi yang kembali menggurita di tengah tata kelola yang rapuh. Anggaran raksasa ini menjadi ladang baru bagi para "bandit berdasi" untuk nilep anggaran.
Ketergantungan kita pada skema-skema luar negeri, ditambah keputusan bergabung kembali dengan blok-blok ekonomi Barat seperti BOP, semakin mempertegas posisi Indonesia yang tidak lagi mandiri. Bagi negara-negara di kawasan Timur Tengah yang sedang berjuang melawan dominasi hegemonik, langkah Indonesia ini dinilai sebagai pengkhianatan terhadap semangat solidaritas negara berkembang. Kepercayaan mereka runtuh. Kita dianggap sudah terbeli oleh janji-janji investasi yang mengaburkan kompas ideologi bangsa.
Kesimpulan: Jangan Mimpi Jadi Pemimpin Dunia
Jangan mimpi menjadi Macan Asia kalau buat lewat selat saja kita kalah start dari tetangga. Jangan mimpi menjadi pemimpin dunia kalau prinsip negara bisa dibeli dengan recehan proyek. Selama mentalitas pejabat kita masih mental "perampok anggaran", jangan harap dunia internasional mau menggelar karpet merah.
Iran memberikan pelajaran berharga: kekuatan itu bukan pada seberapa banyak investasi yang masuk, tapi pada seberapa tegak punggung sebuah bangsa berdiri di hadapan tekanan. Indonesia hari ini sedang membungkuk terlalu rendah, kehilangan harga diri demi "nasi campur" kekuasaan, sementara rakyatnya menonton dengan pilu saat benderanya tak lagi disegani di samudera.
Rasanya sudah habis kata-kata. Antara bangsa yang ditekan dunia karena prinsip (Iran), dengan bangsa yang "ditekan" oleh kerakusan pejabatnya sendiri (Indonesia). Pilihannya jelas: mau tetap jadi Kucing Anggora yang hobi mengeong, atau kembali menjadi Macan yang disegani karena integritas?

