Oleh: Gustam,M.Pd. (Dosen STAI DDI Parepare / Wakil Sekretaris DMI Parepare)
Di balik gegap gempita takbir yang menggema di setiap sudut kota, terselip sebuah pesan sunyi yang kerap terlupa oleh hiruk-pikuk perayaan. Idul Adha tidak sekadar hadir sebagai ritual tahunan untuk menyembelih hewan ternak, membagi daging, lalu kembali ke rutinitas seperti sediakala. Jauh di balik itu, ia adalah undangan terbuka dari Sang Pencipta bagi setiap hamba untuk menapak tilas perjalanan iman Nabi Ibrahim AS—sebuah perjalanan untuk menemukan hakikat pengorbanan yang sesungguhnya.
Dunia yang kita pijak saat ini hanyalah persinggahan yang singkat. Ia ibarat fatamorgana yang sering kali menipu mata, membuat kita silau akan kemewahan, jabatan, dan popularitas yang sifatnya fana. Kita sering terjebak dalam obsesi untuk menumpuk harta dan mencari pengakuan manusia, hingga lupa bahwa masa hidup di dunia ini hanyalah sekejap mata jika dibandingkan dengan keabadian di akhirat kelak. Akhirat adalah tempat tujuan akhir yang kekal, tempat di mana setiap amal akan ditimbang tanpa ada lagi topeng yang mampu menyembunyikan hakikat diri kita yang sebenarnya.
Maka, dalam momentum Idul Adha ini, mari kita sejenak berhenti. Jika Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk menyembelih apa yang paling beliau cintai—putra tercintanya, Ismail—sebagai bukti ketaatan mutlak kepada Allah SWT, maka apa yang sebenarnya dituntut dari kita hari ini?
Pengorbanan kita tidak lagi diukur dari bobot sapi atau kambing yang disembelih di lapangan. Pengorbanan sejati yang dinanti adalah "menyembelih" kesombongan yang bertahta di dalam dada dan merobohkan ego yang sering kali membuat kita merasa paling benar, paling mulia, dan paling berkuasa. Ego adalah dinding tebal yang menghalangi cahaya hidayah masuk ke dalam relung hati. Kesombongan adalah jeratan yang mengikat kita pada dunia dan menjauhkan kita dari jalan pulang menuju Allah.
Saat kita mampu menyembelih rasa angkuh dan mengikis egomania, di situlah hakikat Idul Adha mulai bekerja. Kerelaan untuk melepaskan gengsi, kerelaan untuk memaafkan mereka yang menyakiti, dan kerelaan untuk berbagi tanpa mengharap pujian adalah bentuk pengorbanan yang paling murni. Inilah jalan pulang menuju Allah; sebuah perjalanan ruhani yang menuntut kita untuk menanggalkan baju kebesaran dunia dan mengenakan pakaian ketawadhu’an.
Sering kali kita merasa berat untuk bersedekah, sulit untuk bersikap rendah hati, dan enggan mengalah dalam perdebatan, hanya karena kita merasa hidup ini adalah milik kita sepenuhnya. Padahal, setiap detik yang berdetak adalah pinjaman, dan setiap helai napas adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Menyadari kefanaan dunia adalah kunci untuk membuka pintu keikhlasan. Ketika kita sadar bahwa semua akan ditinggalkan, maka tidak ada lagi alasan untuk memelihara ego yang sia-sia.
Saudaraku, mari jadikan Idul Adha tahun ini sebagai momentum untuk melakukan "revolusi batin". Mari kita jadikan setiap ibadah kurban sebagai simbol pembersihan diri dari penyakit hati yang merusak. Biarkan pisau kurban memotong habis nafsu keserakahan, kedengkian, dan rasa paling hebat yang selama ini mengotori jiwa kita.
Di akhirat nanti, tidak ada gelar akademis atau jabatan struktural yang akan membela kita di hadapan Allah. Yang tersisa hanyalah sejauh mana hati kita bersih dari penyakit-penyakit yang menghalangi kecintaan kepada-Nya. Jadikanlah kerelaan untuk berkorban sebagai kompas yang mengarahkan kita pulang ke kampung halaman yang abadi.
Sembelihlah egomu, tundukkan kesombonganmu, dan biarkan ketaatan kepada Allah menjadi satu-satunya arah hidupmu. Sebab, sebaik-baik manusia bukanlah dia yang menang dalam pertarungan duniawi, melainkan dia yang paling ringan melangkah karena telah berhasil meninggalkan beban kesombongan sebelum ia benar-benar dipanggil untuk pulang ke hadirat-Nya yang abadi. Selamat merenungi hakikat pengorbanan, semoga Allah menerima amal ibadah kita semua.


