PAREPARE, Mizannews.id — Nama H. Bakhtiar Syarifuddin (HBS) kini semakin lekat dengan geliat dakwah subuh di Kota Parepare. Sebagai muassis (pendiri) Majelis Syuhada, HBS berdiri di barisan terdepan dalam menghidupkan gerakan Safari Salat Subuh Berjamaah yang kian hari kian menunjukkan resonansi positif di tengah masyarakat.
Majelis Syuhada tumbuh menjadi gerakan arus bawah yang fokus pada tiga pilar: dakwah, ibadah, dan memakmurkan masjid. Ciri khasnya sangat ikonik—saf-saf masjid dipenuhi jemaah berpakaian serba putih, menciptakan atmosfer spiritual yang teduh namun menggetarkan jiwa.
Dakwah Murni yang Menjadi Magnet Umat
Salah satu fenomena paling menonjol dari perjalanan Majelis Syuhada adalah grafik jumlah jemaah yang terus meroket. Kehadiran mereka tidak lagi dipandang sebagai komunitas subuh biasa, melainkan sebuah gerakan ruhani yang tumbuh secara organik dan alami.
Banyak kalangan menilai, rahasia di balik meluapnya jemaah Majelis Syuhada adalah ketulusan gerakannya. Masyarakat merasa nyaman karena gerakan ini dinilai murni sebagai syiar agama tanpa ditunggangi aroma kepentingan politik praktis. Fokusnya tunggal: membangun ukhuwah dan mengembalikan umat ke rumah Allah.
Menjaga Ruh Istiqamah di Balik Gemuruh Subuh
Meski gaungnya kini membesar, HBS menekankan bahwa perjalanan Majelis Syuhada adalah ikhtiar panjang untuk menjaga istiqamah. Baginya, tantangan terbesar bukanlah mengumpulkan massa dalam satu waktu, melainkan bagaimana memastikan semangat subuh berjamaah tetap terjaga secara berkesinambungan.
"Mengajak orang ke masjid di waktu subuh bukanlah perkara ringan. Ini membutuhkan kesadaran iman, keteladanan, dan kesinambungan dakwah. Yang sedang kami bangun bukan sekadar kerumunan sesaat, melainkan kebiasaan baik yang kelak menjadi budaya keislaman yang kuat di Parepare," ungkap tokoh yang dikenal religius ini.
Menghidupkan Spirit Umat dari Saf Terdepan
Majelis Syuhada Kota Parepare membawa pesan sederhana namun mendalam: menghidupkan subuh adalah cara terbaik untuk memakmurkan masjid dan memperkuat ikatan emosional antarumat.
Di era di mana urusan duniawi begitu mudah mengumpulkan orang, gerakan yang diinisiasi HBS ini hadir sebagai pengingat bahwa masjid harus tetap menjadi pusat gravitasi ruhani. Dari saf-saf subuh yang rapat inilah, Majelis Syuhada terus melangkah dengan tenang dan konsisten.
Sebuah harapan besar disematkan: agar semakin banyak masyarakat yang terpanggil untuk merasakan kemuliaan salat berjamaah, menjemput berkah di waktu subuh, dan memperkokoh identitas Parepare sebagai kota santri dan ulama. (*)

