Oleh: Dr. H. Muhammad Saleh, M.Ag.
Dosen IAIN Parepare
Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa ini mengenang ikrar monumental para pemuda tahun 1928: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia. Sembilan dekade lebih berlalu, tantangan yang dihadapi generasi muda kini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan krisis keteladanan, banjir informasi yang menyesatkan, serta menipisnya kepedulian sosial. Oleh karena itu, tema Hari Sumpah Pemuda 2026, "Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia", sangatlah relevan. Ketiga kata kunci tersebut juga selaras dengan nilai-nilai karakter Islami yang telah lama menjadi fondasi akhlak bangsa.
Patriotik: Cinta Tanah Air sebagai Amanah
Patriotisme sering kali disempitkan maknanya sebatas seremoni, seperti upacara, pengibaran bendera, dan seruan di media sosial. Padahal, cinta tanah air yang sejati terwujud dalam wujud tanggung jawab nyata. Islam mengajarkan konsep amanah: bahwa setiap nikmat, termasuk negeri yang damai dan kaya ini, adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Pemuda patriotik dalam kacamata Islam adalah mereka yang jujur dalam belajar dan bekerja, menolak korupsi sekecil apa pun, serta konsisten menjaga persatuan di tengah perbedaan. Al-Qur'an dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Keberagaman Indonesia bukanlah ancaman, melainkan ladang subur untuk mempraktikkan ta'aruf—saling mengenal, menghargai, dan bekerja sama.
Gigih: Ikhtiar, Istiqamah, dan Ihsan
Sebuah bangsa yang besar tidak lahir dari generasi yang mudah menyerah. Dalam tradisi Islam, kegigihan tercermin dalam tiga pilar utama: ikhtiar (usaha sungguh-sungguh), istiqamah (konsisten di jalan yang benar), dan ihsan (mengerjakan sesuatu dengan kualitas terbaik).
Al-Qur'an mengabadikan kisah para pemuda Ashabul Kahfi, yang teguh memegang keyakinan di tengah tekanan zaman dan karenanya dianugerahi petunjuk oleh Allah. Pesannya sangat jelas: pemuda yang kokoh prinsipnya pasti akan menemukan jalan keluar. Di era digital saat ini, kegigihan berarti tidak larut dalam budaya instan. Mahasiswa perlu tekun mengasah ilmu, wirausahawan muda harus berani menghadapi jatuh bangun, dan pegiat kreatif dituntut konsisten berkarya. Semua ikhtiar tersebut bernilai ibadah bila diniatkan untuk kemaslahatan bersama.
Berempati: Wajah Rahmah dalam Kehidupan Sosial
Kecerdasan tanpa empati hanya akan melahirkan kesombongan, sementara kemajuan tanpa kepedulian sosial akan menumbuhkan kesenjangan. Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Hadis ini menjadi tolok ukur karakter yang autentik: kemuliaan seseorang diukur dari seberapa besar kontribusinya bagi orang lain, bukan dari jabatan, popularitas, atau jumlah pengikut di dunia maya.
Empati pemuda hari ini dapat diwujudkan dalam tindakan yang konkret. Kita bisa membantu rekan yang kesulitan, aktif berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan dan penanggulangan bencana, menjaga lisan serta jari dari ujaran kebencian dan hoaks, serta membela mereka yang lemah dan terpinggirkan. Islam mengajarkan bahwa umat Nabi adalah pembawa rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi semesta alam. Rahmat itu tentu harus dimulai dari sikap peduli di lingkungan yang terdekat.
Menyatukan Tiga Nilai dalam Satu Karakter
Nilai patriotik, gigih, dan berempati bukanlah tiga hal yang berdiri sendiri-sendiri. Patriotisme tanpa kegigihan hanya akan berujung pada slogan kosong. Kegigihan tanpa empati dapat berubah menjadi ambisi egois yang menyingkirkan sesama. Sebaliknya, empati tanpa cinta tanah air akan kehilangan arah gerak kolektif. Ketiganya baru akan utuh bila berpadu dalam akhlak mulia, yang merupakan inti dari misi kenabian.
Oleh karena itu, lembaga pendidikan, keluarga, organisasi kepemudaan, dan komunitas keagamaan perlu bergandengan tangan membangun ekosistem pembentukan karakter yang kokoh. Kampus tidak cukup hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, melainkan harus melahirkan insan yang berintegritas, tangguh, dan peduli. Para pendidik dan tokoh masyarakat pun dituntut untuk senantiasa menghadirkan keteladanan, sebab pemuda belajar jauh lebih banyak dari apa yang mereka lihat ketimbang apa yang mereka dengar.
Penutup
Sumpah Pemuda 1928 mempersatukan bangsa ini lewat sebuah tekad bulat. Sumpah Pemuda 2026 menantang kita untuk terus mempersatukannya lewat karakter yang tangguh. Mari jadikan peringatan ini bukan sekadar ajang nostalgia, melainkan momentum penting untuk meneguhkan diri menjadi pemuda yang mencintai negeri dengan amanah, berjuang dengan istiqamah, dan menebar manfaat dengan penuh empati.
Dengan karakter Islami yang kokoh, pemuda Indonesia tidak hanya berperan sebagai penerus estafet kepemimpinan bangsa, tetapi juga penjaga arah menuju Indonesia yang maju, adil, dan berkeadaban.
Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.


