Pasang Iklan
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Ramadhan di Ambang Perpisahan: Menjemput Kemenangan di Detik-Detik Pamungkas


Oleh: Gustam, S.Pd., M.Pd. (Dosen STAI DDI Parepare, Pengurus DMI Parepare, Bendahara PD IPIM Parepare, Pengurus PD DDI Parepare, Dewan Penasehat BKPRMI Parepare, Sekretaris PMI Ranting Kec. Bacukiki, Presidium GMKR, Sekretaris FMB, dan Sekretaris KMPB Parepare)

MIZANNEWS.ID, Artikel Ramadhan – Ramadhan 1447 H kini telah berada pada fase paling krusial: detik-detik penentu yang akan menjawab kualitas perjalanan spiritual seorang hamba. Ibarat sebuah perlombaan lari, fase ini bukanlah waktu untuk mengendurkan langkah, melainkan saat untuk melakukan sprint terakhir menuju garis finis. Namun, di ambang perpisahan ini, sebuah tanya besar menggelayut di setiap dada: "Sudahkah kita benar-benar menjemput kemenangan, ataukah kita hanya sekadar melewati waktu?"

Antara Harap (Raja’) dan Cemas (Khauf)

Pada tahap akhir ini, orientasi ibadah seorang mukmin tidak lagi semata-mata terletak pada kuantitas atau seberapa banyak aktivitas yang telah dilakukan. Titik tumpunya kini berpindah pada penerimaan (qabul) di sisi Allah Swt. Kesadaran ini melahirkan dua getaran batin yang saling berkelindan: Raja’ (harapan yang tinggi akan rahmat Allah) dan Khauf (kecemasan yang mendalam jika amal tertolak).

Seorang hamba yang cerdas secara spiritual tidak akan merasa puas dengan tumpukan sujud dan sedekahnya. Ia justru diliputi kekhawatiran eksistensial, sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Qur'an: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Mā’idah: 27). Di sini, ketakwaan menjadi variabel tunggal yang menentukan apakah investasi ruhani kita selama sebulan ini akan membuahkan hasil atau justru menguap tanpa bekas.

Paradoks Penghujung Ramadhan

Secara sosiologis, kita sering menjumpai pemandangan yang paradoks. Saat Rasulullah saw. mencontohkan untuk memperhebat ibadah di sepuluh malam terakhir dengan menghidupkan malam dan membangunkan keluarga, sebagian realitas masyarakat kita justru menunjukkan fenomena sebaliknya. Saf-saf masjid perlahan menyusut, sementara pusat perbelanjaan kian padat merayap.

Terjadi pergeseran orientasi dari dimensi spiritual menuju material-konsumtif. Idul Fitri yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan atas hawa nafsu, terkadang tereduksi menjadi sekadar panggung pamer atribut duniawi. Padahal, makna "Fitri" bukanlah kembali pada kemewahan, melainkan kembali pada orisinalitas kemanusiaan yang suci, jujur, dan dekat dengan Sang Khalik.

Menjaga "Pintalan" Amal

Salah satu pesan terpenting dalam menyambut perpisahan ini adalah larangan untuk merusak "pintalan" amal yang telah kita bangun susah payah. Jangan sampai kita menjadi seperti perempuan dalam tamsil Al-Qur'an yang mengurai kembali benang-benang ketaatan yang telah dipintalnya dengan kuat.

Jika selama Ramadhan kita mampu mendidik lisan dari ghibah, menjaga mata dari yang haram, dan melunakkan hati melalui kepedulian sosial, maka pasca-Ramadhan adalah ujian konsistensinya. Kemenangan hakiki ditandai dengan lahirnya "Manusia Baru" yang lebih peka terhadap nestapa sesama, lebih amanah dalam mengemban jabatan, dan lebih jujur dalam berinteraksi sosial.

Penutup: Menuju Gerbang Kemenangan

Mari kita manfaatkan sisa waktu yang sempit ini untuk melakukan audit spiritual. Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa makna yang mendalam. Mari kita tutup perjalanan ini dengan hati yang tunduk, seraya melangitkan doa:

“Ya Allah, terimalah puasa dan ibadah kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang kembali kepada fitrah serta meraih kemenangan dengan rahmat-Mu.”

Ramadhan boleh saja pergi, namun cahaya ketaatan yang telah dinyalakannya tidak boleh padam. Semoga Idul Fitri 1447 H menjadi gerbang awal bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa dan istiqamah hingga akhir hayat.

Taqabbalallahu minna wa minkum.

والله أعلم بالصواب

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Ramadhan di Ambang Perpisahan: Menjemput Kemenangan di Detik-Detik Pamungkas
  • Ramadhan di Ambang Perpisahan: Menjemput Kemenangan di Detik-Detik Pamungkas
  • Ramadhan di Ambang Perpisahan: Menjemput Kemenangan di Detik-Detik Pamungkas
  • Ramadhan di Ambang Perpisahan: Menjemput Kemenangan di Detik-Detik Pamungkas
  • Ramadhan di Ambang Perpisahan: Menjemput Kemenangan di Detik-Detik Pamungkas
  • Ramadhan di Ambang Perpisahan: Menjemput Kemenangan di Detik-Detik Pamungkas
Posting Komentar
Ad
Ad