Oleh: Dr. H. Muhammad Saleh, M.Ag.Dosen IAIN Parepare / Pemerhati Pendidikan Karakter Islami
Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Yatsrib (Madinah). Ia adalah titik balik fundamental dalam sejarah Islam yang menandai transisi dari fase tekanan menuju penguatan umat, dari keterbatasan menuju kejayaan peradaban, serta dari perjuangan individual menuju tatanan masyarakat yang tertib. Encyclopedia Britannica mencatat, peristiwa hijrah pada tahun 622 M bukan sekadar pelarian dari penganiayaan, melainkan upaya Rasulullah saw. membangun fondasi sosial-politik melalui konsolidasi masyarakat, yang kemudian melahirkan Piagam Madinah sebagai konstitusi kehidupan yang berkeadaban.
Dalam lintasan sejarah, hijrah bertransformasi menjadi penanda waktu bagi umat Islam. Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 639 M secara resmi menetapkan era Hijriah sebagai sistem penanggalan Islam. AramcoWorld mengulas bahwa langkah ini diambil guna menciptakan standardisasi administratif dalam korespondensi pemerintahan, militer, dan kehidupan publik yang kian meluas.
Kalender Hijriah memiliki keunikan tersendiri. Berbasis pada peredaran bulan (lunar), sistem ini memiliki durasi tahun sekitar 354 atau 355 hari, yang menyebabkan pergantian bulannya bergerak maju sekitar sebelas hari lebih awal setiap tahun dalam kalender Masehi. Lebih dari sekadar angka, Tahun Baru Hijriah semestinya menjadi ruang muhasabah: sudah sejauh mana hidup kita beranjak dari kebiasaan lama menuju pribadi yang lebih bertransformasi.
Spirit hijrah mengajarkan bahwa perubahan menuntut keberanian untuk memperbaiki diri. Dalam konteks pendidikan karakter, hijrah adalah proses pengasahan akhlak secara berkelanjutan: dari kelalaian menuju kesadaran, dari reaktif menuju bijak, serta dari sekadar tahu menjadi pembiasaan nilai dalam realitas hidup. Pendidikan karakter Islami tidak cukup hanya memberikan pengetahuan tentang baik dan buruk, melainkan harus membentuk kesadaran batin agar seseorang mampu memilih kebaikan, meski dalam ruang privasi tanpa pengawasan.
Relevansi spirit ini menjadi sangat krusial di era digital. Ruang pendidikan kini tidak lagi terbatas pada dinding kelas, masjid, atau pesantren. Ruang digital telah menjelma menjadi medan tempur baru dalam pembentukan karakter. Cara berpikir, bertutur, hingga cara memahami agama kini dibentuk melalui media sosial, algoritma mesin pencari, hingga kecerdasan buatan. Jika ruang digital tidak dibentengi dengan akhlak, kita berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara teknologi namun mengalami krisis adab.
UNESCO menekankan pentingnya digital citizenship (kewargaan digital) yang membekali peserta didik dengan kemampuan kritis dalam mengakses, menilai, dan membagikan informasi. Pendidikan digital bukan sekadar soal keterampilan teknis, melainkan tentang penanaman nilai, tanggung jawab, perdamaian, serta penghormatan terhadap hak orang lain. Partisipasi di ruang daring haruslah ditopang oleh fondasi etis yang kuat.
Maka, memaknai hijrah di era digital berarti melakukan "perpindahan moral": dari budaya menyebar informasi tanpa tabayyun menuju kebiasaan verifikasi, dari komentar kasar menuju tutur kata yang santun, dan dari sekadar menjadi pengguna media sosial menjadi pribadi yang menebar manfaat serta keteladanan.
Al-Qur’an menegaskan: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. al-Hasyr [59]: 18). Ayat ini adalah perintah refleksi. Tahun Baru Hijriah menjadi momentum bagi kita untuk bertanya: sudahkah jejak digital kita mencerminkan akhlak mulia? Apakah konten yang kita bagikan menjadi pintu kebaikan atau justru menambah kegaduhan?
Pendidikan karakter Islami di era digital memerlukan tiga gerakan fundamental. Pertama, membangun kesadaran spiritual bahwa setiap aktivitas digital tetap berada dalam pengawasan Allah. Kedua, menguatkan literasi moral untuk memilah konten yang mendidik dari yang merusak. Ketiga, membiasakan keteladanan digital dengan menjadikan media sosial sebagai ruang dakwah yang mencerahkan.
Para pendidik, orang tua, dan tokoh masyarakat tidak cukup hanya membatasi penggunaan teknologi. Pendampingan yang dialogis dan penuh kepercayaan jauh lebih efektif daripada larangan tanpa solusi. Pendidikan karakter harus mewujud dalam praktik nyata, termasuk dalam cara kita bermedia sosial.
Tahun Baru Hijriah mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari keberanian meninggalkan zona nyaman. Nabi Muhammad saw. berhijrah untuk membangun strategi peradaban. Umat Islam hari ini pun perlu melakukan "hijrah peradaban digital": memanfaatkan teknologi untuk memperkokoh iman, memperluas cakrawala ilmu, dan memperbaiki akhlak.
Mari jadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum untuk memperbarui niat dan menata ulang jejak digital kita. Jangan biarkan teknologi menumpulkan nurani dan mengikis adab. Mari merawat akhlak, menguatkan karakter, dan menjadikan ruang digital sebagai ladang amal jariyah. Semoga Allah membimbing langkah kita agar pergantian tahun senantiasa menambah iman, ilmu, serta kebermanfaatan bagi umat. Amin.


