Pasang Iklan
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Detik-Detik Akhir Ramadhan 1447 H: Antara Harapan Diterima dan Kekhawatiran Ditolak


 Dr. H. Muhammad Saleh, M.Ag. Dosen IAIN Parepare | Pengurus DMI Kota Parepare Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Parepare Pemerhati Pendidikan Karakter Islami

mizannews.id, Artikel Ramadhan-Ramadhan 1447 H kini berada pada fase paling krusial: detik-detik penutup yang menjadi penentu kualitas perjalanan spiritual seorang muslim. Pada tahap ini, orientasi ibadah tidak lagi sekadar mengejar intensitas kuantitas, melainkan pada esensi penerimaan (qabul) di sisi Allah Swt. Kesadaran transendental ini melahirkan dua sikap batin yang saling berkelindan: harapan (raja’) dan kekhawatiran (khauf). Seorang mukmin sejati tidak akan merasa pongah dengan tumpukan amal yang telah dilakukan, melainkan diliputi kecemasan eksistensial: apakah ibadahnya diterima sebagai persembahan yang layak, atau justru tertolak karena noda riya dan kelalaian.

Al-Qur’an menegaskan bahwa tidak ada otomatisasi dalam penerimaan amal. Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Mā’idah: 27). Ayat ini membawa pesan fundamental bahwa kualitas ketakwaan adalah variabel utama. Allah bahkan melukiskan profil hamba beriman sebagai pribadi yang beramal dengan totalitas, namun hatinya tetap bergetar penuh ketakutan saat menghadap-Nya: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati yang takut…” (QS. Al-Mu’minūn: 60). Rasa takut ini bukanlah manifestasi kelemahan, melainkan bentuk kedalaman kesadaran spiritual.

Rasulullah saw. memberikan prototipe konkret dalam memaksimalkan momentum akhir Ramadhan. Sebagaimana terekam dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, saat memasuki sepuluh malam terakhir, beliau menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, dan memperhebat kesungguhan ibadahnya. Ini menunjukkan bahwa puncak pendakian spiritual justru berada di penghujung, bukan di awal perjalanan. Bahkan, untaian doa yang diajarkan Nabi pada malam-malam i’tikaf—“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”—menegaskan bahwa kebutuhan eksistensial terbesar seorang hamba adalah ampunan, melampaui sekadar hitungan pahala.

Teladan ini dipertegas oleh sikap para sahabat. Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berpesan, “Jadilah kalian lebih perhatian terhadap diterimanya amal daripada banyaknya amal itu sendiri.” Senada dengan itu, Abdullah bin Umar r.a. menyatakan bahwa jika ia mengetahui satu sujudnya diterima oleh Allah, maka itu jauh lebih berharga daripada dunia beserta isinya. Jejak sejarah mencatat, para sahabat dan tabi’in memanjatkan doa selama enam bulan pasca-Ramadhan agar amal mereka diterima, dan enam bulan berikutnya agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan. Hal ini membuktikan bahwa Ramadhan bukanlah rutinitas tahunan yang mekanis, melainkan pengalaman spiritual yang dirindukan sepanjang hayat.

Namun, realitas sosiologis saat ini seringkali menyuguhkan paradoks. Menjelang garis finis Ramadhan, jamaah di masjid-masjid cenderung menyusut, sementara pusat perbelanjaan kian padat merayap. Fenomena ini menggambarkan adanya pergeseran orientasi dari dimensi spiritual menuju material-konsumtif. Padahal, esensi Idul Fitri bukanlah pada kemeriahan selebrasi, melainkan pada keberhasilan "kembali ke fitrah"—sebuah kesucian jiwa yang telah ditempa dalam kawah candradimuka Ramadhan. "Fitri" bukan sekadar kembali makan setelah berpuasa, melainkan kembali pada orisinalitas kemanusiaan yang bersih dari dosa dan lekat dengan Sang Khalik.

Oleh karena itu, detik-detik terakhir Ramadhan harus kita maknai sebagai ruang muhasabah yang jujur. Sudahkah Ramadhan mentransformasi shalat kita menjadi lebih khusyuk? Sudahkah lisan kita lebih terjaga dari residu dusta dan ghibah? Sudahkah hati kita kian peka terhadap nestapa sesama? Jika getaran perubahan itu mulai tampak, itulah tanda bahwa Ramadhan telah meninggalkan jejak permanen dalam diri. Namun jika tidak, maka diperlukan akselerasi kesadaran untuk berbenah sebelum kesempatan emas ini benar-benar berlalu.

Detik-detik akhir Ramadhan bukan sekadar penutup waktu, melainkan penentu arah kompas kehidupan setelahnya. Keberhasilan sejati bukan terletak pada keberhasilan menyelesaikan puasa, melainkan pada lahirnya pribadi yang lebih bertakwa, lebih jujur, dan lebih dekat kepada Allah Swt. Maka, sisa waktu yang ada hendaknya diisi dengan kesungguhan ibadah, eskalasi istighfar, serta penguatan komitmen untuk membumikan nilai-nilai Ramadhan dalam keseharian.

Marilah kita menutup Ramadhan dengan hati yang tunduk, jiwa yang jernih, dan harapan yang membumbung kepada Allah Swt., seraya bermunajat:

للهم تقبل منا صيامنا وقيامنا، واغفر لنا ذنوبنا، واعتق رقابنا من النار، واجعلنا من عبادك المتقين، ومن العائدين إلى الفطرة، الفائزين برحمتك يا أرحم الراحمين.

Ya Allah, terimalah puasa dan ibadah kami, ampunilah dosa-dosa kami, bebaskan kami dari api neraka, dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa, yang kembali kepada fitrah, serta meraih kemenangan dengan rahmat-Mu.

Semoga Ramadhan yang akan berpisah ini meninggalkan cahaya yang terus menyala, menerangi setiap langkah kehidupan kita di masa depan.

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Detik-Detik Akhir Ramadhan 1447 H: Antara Harapan Diterima dan Kekhawatiran Ditolak
  • Detik-Detik Akhir Ramadhan 1447 H: Antara Harapan Diterima dan Kekhawatiran Ditolak
  • Detik-Detik Akhir Ramadhan 1447 H: Antara Harapan Diterima dan Kekhawatiran Ditolak
  • Detik-Detik Akhir Ramadhan 1447 H: Antara Harapan Diterima dan Kekhawatiran Ditolak
  • Detik-Detik Akhir Ramadhan 1447 H: Antara Harapan Diterima dan Kekhawatiran Ditolak
  • Detik-Detik Akhir Ramadhan 1447 H: Antara Harapan Diterima dan Kekhawatiran Ditolak
Posting Komentar
Ad
Ad