Pasang Iklan
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Bangkrut yang Terlupakan: Refleksi Al-Muflish dalam Kehidupan Sosial Kita

 

Oleh: Gustam, M.Pd 

(Dosen STAI DDI Parepare / Ketua IKA Pasca Sarjana IAIN Parepare)

Tahun baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka di kalender. Ia adalah detak waktu yang mengajak kita menoleh ke belakang—bukan untuk meratap, melainkan untuk menghitung kembali "modal" yang kita bawa menuju hari esok. Di tengah riuhnya arus informasi dan gesekan sosial hari ini, ada satu peringatan dari Rasulullah SAW yang sering terlupa, padahal dampaknya jauh lebih mengerikan daripada kebangkrutan harta: fenomena Al-Muflish.

Al-Muflish adalah istilah yang disematkan bagi mereka yang datang di hari kiamat dengan membawa segunung pahala—shalatnya rajin, puasanya terjaga, sedekahnya rutin—namun pada saat yang sama, ia juga membawa "tumpukan hutang" berupa kezaliman terhadap sesama. Ia pernah mencaci, memfitnah, memakan hak orang lain, hingga menyebarkan kebencian. Akhirnya, pahala yang dikumpulkan dengan susah payah justru habis diberikan kepada orang-orang yang pernah ia sakiti. Ia pun terhempas ke dalam kerugian yang nyata.

Refleksi di Tengah Arus Sosial

Hari ini, fenomena Al-Muflish seolah menemukan panggungnya di ruang digital dan interaksi sosial kita. Betapa mudahnya jemari mengetik komentar kebencian,memfitnah, betapa gampangnya lisan memicu perpecahan, dan betapa seringnya kita merasa benar sendiri seraya merendahkan martabat orang lain. Kita mungkin merasa hebat karena memiliki segudang kesibukan ibadah, namun kita lupa bahwa ada "lubang bocor" pada akhlak sosial kita yang sedang menguras habis pahala tersebut.

Di tahun baru Islam ini, spirit hijrah menuntut kita untuk berbenah. Hijrah bukan hanya soal berpindah tempat, tetapi berpindah dari perilaku yang merusak menuju perilaku yang membangun. Kita perlu menanamkan sikap kehati-hatian (muhasabah) dalam setiap langkah.

Menjaga "Tabungan" Akhirat

Ada tiga hal mendasar yang perlu kita tanamkan untuk menghindari predikat Al-Muflish:

  1. Hijrah Lisan dan Jemari: Memahami bahwa setiap kata yang terucap dan tertulis adalah catatan yang akan diminta pertanggungjawabannya. Jangan biarkan ghibah atau fitnah sosial di media sosial menjadi mesin penghancur tabungan akhirat kita.

  2. Kepekaan Sosial: Hijrah harus melahirkan empati. Sebelum menyakiti orang lain, ingatlah bahwa hak orang lain atas kehormatan dan harta mereka adalah "cicilan hutang" yang akan menagih kita di hadapan Allah SWT.

  3. Kesadaran Berbenah: Tahun baru adalah momentum untuk membersihkan diri dari ego yang merasa paling suci. Mari kita jadikan tahun 1448 H sebagai tahun "koreksi diri" (evaluasi), bukan tahun "menghakimi orang lain".

Menyongsong Tahun dengan Hati yang Baru

Spirit hijrah mengajarkan kita bahwa perubahan besar dimulai dari kesadaran kecil untuk menahan diri dari keburukan. Jika di tahun-tahun sebelumnya kita terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain, mari di tahun ini kita sibuk membenahi diri sendiri. Mari kita pastikan bahwa setiap aktivitas kita—baik di dunia nyata maupun di ruang digital—dapat menjadi jalan penebar manfaat, bukan jalan menuju kebangkrutan yang memilukan.

Mari menutup pintu-pintu kedzaliman, membuka lebar pintu maaf, dan berjalan di atas koridor akhlak yang mulia. Sebab, sebaik-baiknya orang yang berhijrah adalah mereka yang mampu membawa perubahan dari pribadi yang kurang beradab menjadi pribadi yang menebar kedamaian bagi sesama.

Semoga tahun ini menjadi saksi bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih bijak, lebih santun, dan terjauhkan dari jebakan Al-Muflish. Amin ya Rabbal Alamin.

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Bangkrut yang Terlupakan: Refleksi Al-Muflish dalam Kehidupan Sosial Kita
  • Bangkrut yang Terlupakan: Refleksi Al-Muflish dalam Kehidupan Sosial Kita
  • Bangkrut yang Terlupakan: Refleksi Al-Muflish dalam Kehidupan Sosial Kita
  • Bangkrut yang Terlupakan: Refleksi Al-Muflish dalam Kehidupan Sosial Kita
  • Bangkrut yang Terlupakan: Refleksi Al-Muflish dalam Kehidupan Sosial Kita
  • Bangkrut yang Terlupakan: Refleksi Al-Muflish dalam Kehidupan Sosial Kita
Posting Komentar
Ad
Ad