Pasang Iklan
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Ketika Pendidikan Kehilangan Ruh Spiritual

Oleh: H. Muhammad Saleh, M.Ag. Dosen IAIN Parepare dan Pemerhati Pendidikan Karakter Islami #SeriKarakterIslami

Kemajuan teknologi telah mengubah wajah pendidikan secara drastis. Ruang kelas kini dipenuhi perangkat digital, kecerdasan buatan mulai digunakan dalam proses pembelajaran, dan akses informasi semakin terbuka tanpa batas. Di satu sisi, perubahan ini membawa banyak kemudahan. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan penting yang patut direnungkan bersama: apakah pendidikan modern benar-benar sedang membentuk manusia yang lebih baik?

Realitas sosial menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan moral dan spiritual. Banyak peserta didik memiliki kemampuan akademik yang tinggi, tetapi mudah mengalami kegelisahan, kehilangan arah hidup, bahkan mengalami krisis makna. Tidak sedikit pula yang mahir menggunakan teknologi, tetapi gagal mengendalikan etika dalam penggunaannya.

Fenomena ini menjadi tanda bahwa pendidikan hari ini cenderung terlalu fokus pada penguatan akal, tetapi kurang memberi perhatian pada pembinaan hati. Pendidikan berhasil menghasilkan manusia yang cepat berpikir, tetapi belum tentu mampu menghadirkan manusia yang bijak dalam bertindak.

Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak pernah dimaknai sekadar proses transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah proses membentuk manusia secara utuh: menguatkan iman, mencerdaskan akal, dan memperhalus adab. Ketiganya harus berjalan seimbang. Ketika salah satu diabaikan, pendidikan akan kehilangan ruhnya.

Iman menjadi fondasi utama dalam membangun arah hidup manusia. Keimanan membuat seseorang memahami bahwa ilmu bukan sekadar alat mencari pekerjaan atau status sosial, tetapi amanah yang harus digunakan untuk kebaikan. Tanpa iman, ilmu mudah berubah menjadi alat kesombongan, bahkan dapat digunakan untuk merusak kehidupan manusia.

Sementara itu, akal memiliki posisi mulia dalam Islam. Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran. Namun akal yang tidak dipandu nilai-nilai ketuhanan dapat kehilangan orientasi moral. Karena itu, pendidikan Islam selalu menempatkan wahyu sebagai cahaya yang membimbing akal manusia.

Adapun adab merupakan manifestasi nyata dari kualitas ilmu dan iman seseorang. Tradisi ulama klasik bahkan menempatkan adab sebelum ilmu. Sebab ilmu tanpa akhlak hanya melahirkan manusia pintar yang berpotensi melukai orang lain dengan kecerdasannya.

Di tengah tantangan era digital, Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki tanggung jawab besar untuk menghidupkan kembali dimensi spiritual dalam proses pendidikan. PAI tidak cukup hanya mengajarkan hafalan ayat, teori ibadah, atau sejarah Islam secara normatif. Lebih dari itu, PAI harus mampu membangun hubungan batin peserta didik dengan Allah.

Konsep taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah perlu dihidupkan dalam pembelajaran. Peserta didik harus dibimbing memahami bahwa belajar adalah bagian dari ibadah. Ketika ilmu dipelajari dengan niat mendekat kepada Allah, maka proses belajar akan melahirkan keikhlasan, tanggung jawab, dan ketenangan jiwa.

Selain itu, penting pula menanamkan nilai murāqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perilaku manusia. Kesadaran ini akan melahirkan kontrol diri yang kuat. Peserta didik akan belajar jujur bukan karena takut diawasi guru, tetapi karena merasa diawasi Allah. Mereka akan menjaga etika digital, menghindari plagiarisme, dan bertanggung jawab dalam penggunaan teknologi.

Nilai syukur juga perlu menjadi bagian penting dalam pendidikan. Di tengah budaya instan dan kompetitif, banyak generasi muda tumbuh dengan sikap mudah mengeluh dan sulit menghargai proses. Padahal syukur adalah kekuatan spiritual yang mampu menghadirkan ketenangan, optimisme, dan semangat belajar.

Sayangnya, dimensi-dimensi spiritual tersebut sering kali kalah oleh orientasi pendidikan yang terlalu administratif dan materialistik. Sekolah sibuk mengejar target kurikulum dan capaian angka, sementara pembinaan ruhani peserta didik kurang mendapatkan perhatian yang serius.

Karena itu, pendidikan perlu kembali pada hakikatnya sebagai proses memanusiakan manusia. Guru tidak cukup hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga teladan akhlak dan pembimbing spiritual. Pembelajaran tidak hanya mengejar kecerdasan akademik, tetapi juga harus menghadirkan refleksi, kesadaran diri, dan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan peserta didik.

Kita tentu tidak ingin melahirkan generasi yang canggih menggunakan teknologi tetapi kehilangan empati sosial, mahir berbicara tetapi miskin adab, atau unggul secara intelektual tetapi rapuh secara spiritual. Pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang tidak hanya sukses secara duniawi, tetapi juga memiliki hati yang hidup bersama Tuhan.

Sebab pada akhirnya, krisis terbesar manusia modern bukan sekadar kekurangan informasi, melainkan kehilangan makna hidup. Dan pendidikan yang mampu menghadirkan cinta kepada Tuhan adalah pendidikan yang sesungguhnya sedang menyelamatkan masa depan manusia.

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Ketika Pendidikan Kehilangan Ruh Spiritual
  • Ketika Pendidikan Kehilangan Ruh Spiritual
  • Ketika Pendidikan Kehilangan Ruh Spiritual
  • Ketika Pendidikan Kehilangan Ruh Spiritual
  • Ketika Pendidikan Kehilangan Ruh Spiritual
  • Ketika Pendidikan Kehilangan Ruh Spiritual
Posting Komentar
Ad
Ad