Oleh: Gustam,
M.Pd (Ketua IKA Pascasarjana IAIN Parepare)
MIZANNEWS.ID,Artikel Ramadhan – Dalam
kacamata Islam, aktivitas perdagangan atau perniagaan bukanlah sekadar urusan
"perut" atau upaya mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Lebih dari
itu, dagang adalah warisan mulia para Nabi yang menempatkan hubungan
antarmanusia (muamalah) pada posisi yang sangat terhormat.
Rasulullah SAW, jauh sebelum masa kenabiannya, telah memberikan teladan
sebagai seorang saudagar ulung yang jujur. Beliau membuktikan bahwa kesuksesan
ekonomi dan kedalaman spiritualitas bukanlah dua hal yang harus dipisahkan,
melainkan satu kesatuan yang saling menguatkan.
Harta Sebagai Amanah, Bukan Hak Mutlak
Satu prinsip dasar yang sering terlupakan di era kompetitif ini adalah
konsep Mustakhlafin. Kita harus sadar bahwa manusia hanyalah
pemegang amanah, sementara pemilik mutlak atas segala sesuatu di langit dan
bumi adalah Allah SWT.
Kesadaran ini menjadi filter moral yang sangat kuat. Ketika seorang
pebisnis merasa harta adalah milik pribadinya, ia akan cenderung serakah dan
menghalalkan segala cara. Namun, jika ia sadar bahwa hartanya hanyalah titipan,
maka akan lahir sifat Wara’—sikap penuh kehati-hatian agar setiap
langkah usahanya tidak melanggar aturan Sang Pemberi Amanah.
Keberkahan: Melampaui Deretan Angka
Dalam bisnis syariah, indikator kesuksesan tidak hanya berhenti pada
angka-angka di atas kertas atau saldo di rekening. Kita mengenal konsep Barakah atau Ziyadatul
Khair, yang berarti bertambahnya kebaikan.
Harta yang sedikit namun berkah, jauh lebih bernilai daripada harta
melimpah yang justru mendatangkan kegelisahan. Harta yang berkah memiliki ciri
khas: ia menghadirkan ketenangan jiwa, membuat pemiliknya semakin ringan
melangkah untuk ibadah, serta memberikan dampak sosial yang luas melalui zakat
dan sedekah bagi keluarga maupun masyarakat.
Pilar Kesuksesan: Jujur, Adil, dan
Bersih
Untuk meraih mahkota keberkahan dalam perniagaan, ada tiga pilar utama
yang harus dijaga:
1. Shiddiq (Kejujuran): Tidak
menyembunyikan cacat barang. Kejujuran adalah tiket bagi pedagang untuk
dibangkitkan bersama para Nabi dan syuhada di akhirat kelak.
2. Adl (Keadilan): Disiplin dalam
takaran dan timbangan, serta menjauhi praktik Ihtikar atau
menimbun barang hanya untuk mempermainkan harga pasar.
3. Bersih dari Riba dan
Gharar: Keuntungan yang lahir dari bunga (riba) atau ketidakjelasan yang
menipu (gharar) mungkin terlihat besar secara lahiriah, namun Allah akan
mencabut ruh keberkahan di dalamnya.
Harta Sebagai Kendaraan Menuju Rida
Allah
Seorang pedagang muslim sejati menjadikan bisnisnya sebagai wasilah atau
jalan untuk membantu sesama. Di tengah kesibukan menghitung laba, ia tidak
pernah lupa melibatkan Allah dalam setiap transaksinya. Jangan sampai riuhnya
pasar membuat kita lalai dari panggilan azan.
Mari kita jadikan dunia ini sebagai kendaraan yang baik. Jika
kendaraannya halal dan arahnya benar, maka ia akan mengantarkan pemiliknya pada
tujuan tertinggi, yaitu rida Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya: “Dan
Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (QS.
Al-Baqarah: 275).
Semoga setiap rupiah yang kita jemput di jalur perniagaan hari ini,
menjadi saksi pembela kita di hadapan Allah kelak. (*)


