mizannews.id_PAREPARE-Di bawah kepemimpinan Tasming Hamid bersama Wakil Wali Kota Hermanto P., Kota Parepare tidak sedang berjalan biasa. Ia sedang berlari dan angka-angka berbicara dengan tenang namun tegas.
Dalam satu tahun pemerintahan, fondasi yang dibangun bukan sekadar slogan. Tingkat kemiskinan turun menjadi 4,44 persen pada 2025, dari sebelumnya 5,27 persen. Jumlah penduduk miskin berada di kisaran 6,73 ribu jiwa. Lebih mencolok lagi, kemiskinan ekstrem hanya tersisa 0,48 persen atau sekitar 741 jiwa—salah satu yang terendah di Sulawesi Selatan. Statistik seperti ini tidak muncul dari kebetulan; ia lahir dari intervensi kebijakan yang terarah.
Indeks Pembangunan Manusia Parepare juga meningkat dari 80,97 menjadi 81,50 pada 2025. Angka tersebut menempatkan kota ini dalam kategori “sangat tinggi” dan berada di peringkat ketiga se-Sulawesi Selatan. Di saat yang sama, tingkat pengangguran terbuka ditekan hingga 4,98 persen. Pendidikan, kesehatan, dan daya beli bergerak dalam satu irama yang relatif selaras.
Program unggulan yang dijalankan tidak berhenti pada konsep. Ribuan pelajar menerima seragam sekolah gratis dan bantuan beasiswa. Melalui program Parepare KEREN, sebanyak 250 pengusaha baru lahir, memperluas ekosistem ekonomi lokal. Perlindungan sosial diperkuat dengan layanan BPJS gratis, bantuan rumah layak huni, hingga fasilitas perlengkapan pemakaman bagi warga kurang mampu. Kebijakan publik di sini tampak diarahkan pada sentuhan langsung ke kebutuhan riil masyarakat.
Di bidang lingkungan hidup, capaian Parepare bahkan menembus panggung nasional. Berdasarkan evaluasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Parepare meraih Juara I Pengelolaan Sampah tingkat Sulawesi Selatan dan menempati peringkat ke-6 nasional pada 2025 dengan skor total 72,79. Penilaian tersebut mencakup kebijakan anggaran, kesiapan sumber daya manusia dan fasilitas, hingga kinerja nyata pengelolaan kebersihan kota.
Semua ini membentuk sebuah pola: tahun pertama bukan sekadar periode adaptasi, melainkan tahap peletakan fondasi sistemik. Pemerintahan yang sehat bukan diukur dari tepuk tangan, tetapi dari indikator yang terverifikasi. Ketika data menunjukkan kemiskinan turun, IPM naik, pengangguran terkendali, dan tata kelola lingkungan diakui nasional, maka arah pergerakan kota menjadi semakin jelas.
Parepare kini berdiri dengan struktur yang lebih kokoh, bergerak menuju visi “Terbaik, Sejahtera, dan Maju” bukan sebagai kalimat retoris, melainkan sebagai proyek kebijakan yang sedang berjalan. Dalam politik pembangunan, yang paling sulit bukanlah memulai, tetapi menjaga konsistensi. Dan konsistensi selalu diuji oleh waktu, sementara angka-angka akan terus menjadi saksi yang paling jujur.


