Oleh : Gustam, S.Pd.,M.Pd.
Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah yang agung, melainkan momentum spiritual untuk meneguhkan kembali hubungan manusia dengan Allah SWT. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan luar biasa Rasulullah ﷺ, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, dalam satu malam. Sebuah perjalanan yang, jika diukur dengan logika dan hukum fisika manusia, sulit—bahkan nyaris mustahil—untuk dijangkau oleh akal.
Namun di sinilah letak pesan terdalam Isra’ Mi’raj: keterbatasan logika manusia bukanlah batas kekuasaan Allah SWT. Allah adalah Pencipta ruang, waktu, dan seluruh hukum alam. Maka Dia tidak terikat oleh apa yang Dia ciptakan. Apa yang tampak mustahil bagi akal manusia, menjadi sangat mungkin ketika Allah berkehendak.
Dalam perspektif ilmu pengetahuan modern, manusia baru mulai memahami bahwa ruang dan waktu tidak sesederhana yang dibayangkan. Kecepatan cahaya, relativitas waktu, dan dimensi ruang membuka kesadaran bahwa alam semesta menyimpan misteri yang jauh melampaui kemampuan nalar manusia. Jika ilmu saja terus berkembang dan merevisi pemahaman lama, maka menolak mukjizat hanya karena belum terjangkau logika adalah sikap yang terburu-buru. Di sinilah iman mengambil peran: iman bukan menolak akal, tetapi melampaui batasnya.
Isra’ Mi’raj pada akhirnya bukan tentang kecepatan perjalanan atau jarak kosmik, melainkan tentang tujuan spiritual. Puncak dari peristiwa agung ini adalah diterimanya perintah shalat. Shalat menjadi satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah kepada Rasulullah ﷺ tanpa perantara wahyu di bumi. Ini menegaskan bahwa shalat adalah fondasi utama hubungan hamba dengan Tuhannya—mi’rajnya orang beriman.
Di era modern dan digital saat ini, manusia hidup dalam konektivitas tanpa batas. Jari-jari kita lebih sering menyentuh layar gawai daripada menengadah dalam doa. Informasi bergerak sangat cepat, notifikasi tak pernah berhenti, tetapi ketenangan batin justru semakin langka. Dalam kondisi inilah pesan Isra’ Mi’raj menjadi sangat relevan: di tengah kecepatan dunia, manusia membutuhkan jeda spiritual bernama shalat.
Shalat mengajarkan disiplin waktu di tengah jadwal yang padat, kekhusyukan di tengah distraksi digital, serta ketundukan kepada Allah di tengah budaya yang sering menuhankan teknologi dan rasionalitas. Tanpa shalat, kemajuan justru berpotensi melahirkan kekosongan makna dan krisis moral. Dengan shalat, kemajuan teknologi dapat diarahkan untuk kemaslahatan, bukan kerusakan.
Peringatan Isra’ Mi’raj hari ini seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan ucapan. Ukurannya bukan seberapa indah perayaan, tetapi seberapa kuat shalat dan ketaatan kita setelahnya. Apakah kita semakin menjaga shalat tepat waktu? Apakah iman kita semakin kokoh di tengah godaan dunia digital? Apakah teknologi kita gunakan untuk kebaikan dan nilai-nilai tauhid?
Isra’ Mi’raj mengajarkan satu pesan besar: ketika logika manusia sampai pada batasnya, iman kepada Allah membuka cakrawala yang lebih luas. Semoga peringatan Isra’ Mi’raj ini meneguhkan keyakinan kita akan keagungan Allah SWT, memperbaiki kualitas shalat kita, dan menuntun kita menjadi hamba yang taat serta manusia yang bijak dalam menjalani kehidupan modern dan era digital saat ini.


