Pasang Iklan
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

"Di La Doma" Tempat Kami Belajar Diam dan Bersyukur


mizannews.id_Mengawali tahun 2026, Crew Mizannews.id memilih berhenti sejenak. Bukan untuk merayakan, bukan pula untuk melarikan diri, melainkan untuk mendengar—mendengar alam, mendengar sesama, dan mendengar diri sendiri. Pada Jumat, 2 Januari 2026, langkah kami mengarah ke kawasan wisata La Doma, sebuah ruang sunyi yang perlahan mengajarkan makna pulang.

Kami yang hadir adalah Gustam, Jamaluddin, Sulfikar Samad, Dody AS, Illank, dan Ondank. Ada nama-nama yang tak sempat bersama kami secara fisik. Bro Yusran, pencetus ide camping ini, tertahan oleh tanggung jawab yang belum selesai. Andi Idham, Lurah Lemoe, berhalangan karena kondisi kesehatan. Mursal, Lurah Wattang Bacukiki, sempat menyapa kami di sore hari, lalu pamit sebelum malam sepenuhnya turun. Ketidakhadiran mereka justru mengajarkan satu hal: kebersamaan tak selalu harus lengkap untuk tetap bermakna.

Ini adalah kali kedua kami memilih La Doma. Ia bukan tempat yang ekstrem. Justru kesederhanaannya yang kami cari. Fasilitas dasar tersedia, sinyal internet masih bisa dijangkau meski sesekali menghilang, seolah alam meminta kami untuk benar-benar hadir. Di sisi tenda, sungai kecil mengalir tanpa lelah, gemercik airnya menjadi latar bagi pikiran-pikiran yang selama ini terpendam.

Saat Maghrib tiba, kami bersujud bersama. Dipimpin oleh Gustam, shalat berjamaah di atas tanah La Doma terasa berbeda. Tak ada dinding, tak ada atap, hanya langit, pepohonan, dan rasa kecil di hadapan kebesaran Allah SWT. Di momen itu, kami sadar: sering kali kita lupa betapa dekat-Nya Dia, karena terlalu sibuk dengan dunia yang kita ciptakan sendiri.

Malam dilanjutkan dengan ngopi sederhana, menunggu Isya. Makan malam yang apa adanya justru terasa hangat di tengah dingin yang merayap. Kami duduk melingkar, berbagi cerita, pengalaman, dan tawa. Tidak ada topik besar, tidak ada agenda penting. Namun di sanalah kami benar-benar hadir, mendengar tanpa menyela, berbicara tanpa berpura-pura, tertawa tanpa beban. Keramaian kota terasa jauh, digantikan oleh keheningan yang menenangkan.

Malam itu, kami tidak sendiri ada beberapa komunitas lainnya yang ikut meramaikan La Doma, tak jauh dari kami mendirikan tenda ada sekumpulan remaja yang ikut mendirikan tenda dan juga ada beberapa bersama keluarga mereka, di sisi paling depan ada kumunitas FMB Forum masyarakat Bahagia yang sangat ramai yang di Di dampingi oleh Zainal Azis Mandeng dan Ustadz Fahri.  

Waktu bergerak pelan, lalu tiba-tiba terasa cepat. Pukul 00.00, satu per satu kami masuk ke tenda. Kami merebahkan tubuh, melepaskan lelah, membiarkan pikiran yang bising perlahan tenang. Malam melanjutkan tugasnya—menjaga sunyi, menyembuhkan diam-diam, dan mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dipikirkan malam ini.

Menjelang Subuh, kami kembali terbangun. Masih dengan mata yang berat, kami kembali bersujud. Ada rasa yang sulit dijelaskan saat sujud di pagi buta—antara pasrah, syukur, dan harapan yang tak sempat terucap. Satu hal yang selalu kami sadari setiap pagi: Allah SWT masih memberi nikmat sehat, dan itu saja sudah cukup untuk disyukuri.

Usai shalat Subuh berjamaah, kami duduk bersama hingga matahari perlahan menampakkan dirinya. Cahaya pagi menyentuh tenda, sungai, dan wajah-wajah yang semalam dipeluk dingin. Tidak banyak kata. Kami belajar bahwa diam pun bisa menjadi bahasa.

Sekitar pukul 10 pagi, kami mulai berkemas. Kembali ke peradaban. Kembali ke rutinitas, tanggung jawab, dan kesibukan yang menanti. Namun kami tahu, ada sesuatu yang kami tinggalkan di La Doma, dan ada sesuatu pula yang kami bawa pulang.

Perjalanan ini bukan tentang menggantikan gelap dengan terang. Bukan pula tentang mencari versi diri yang baru. Ia adalah tentang berdamai dengan semua bagian diri, menerima lelah, ragu, dan harap sebagai satu kesatuan. Tentang menghormati energi kehidupan yang sering kita abaikan saat terlalu sibuk menjadi siapa-siapa.

Dan ketika kami melangkah pergi, La Doma tetap di sana, sunyi, setia, dan jujur, mengingatkan bahwa sesekali, manusia perlu berhenti…

agar tidak lupa caranya pulang....

Baca Juga
Berita Terbaru
  • "Di La Doma" Tempat Kami Belajar Diam dan Bersyukur
  • "Di La Doma" Tempat Kami Belajar Diam dan Bersyukur
  • "Di La Doma" Tempat Kami Belajar Diam dan Bersyukur
  • "Di La Doma" Tempat Kami Belajar Diam dan Bersyukur
  • "Di La Doma" Tempat Kami Belajar Diam dan Bersyukur
  • "Di La Doma" Tempat Kami Belajar Diam dan Bersyukur
Posting Komentar
Ad
Ad